Posted by: spiritualkundalini | May 19, 2009

Sembahyang, Melukat dan Meditasi

Tiga Ciri Spiritualitas Bali

Sembahyang

Kegiatan sembahyang merupakan satu kesatuan dalam keseharian masyarakat Bali. Mengapa kita perlu sembahyang ?. Manusia terdiri dari tiga unsur penting yaitu tubuh, pikiran dan jiwa (atman) dari ketiga unsur ini dengan fungsinya masing-masing menjadikan manusia sebagai makhluk sosial religius.

sembahyangSebagai makhluk sosial manusia dalam menjalani rutinitas kehidupan ini penuh dengan tantangan dengan harapan agar hidup ini bisa bahagia dan sejahtera. Jika kita melihat kehidupan dari aspek sosial, tampak bahwa tubuh dan pikiran kita ini mengambil porsi terbanyak untuk kita penuhi sebab kebahagiaan dan kesejateraan sesungguhnya bermuara pada pikiran manusia dan pada akhirnya pikiran itu akan mempengaruhi tubuh. Karena itu, ukuran kebahagiaan dan kesejahteraan setiap orang tergantung pemrograman bawah sadar mereka masing-masing.

Sebagai mahluk religius jiwa ini hampir jarang mendapat perhatian. Ada yang berpendapat bahwa dengan hidup penuh keberlimpahan kepuasan jiwa ini sudah kita penuhi. Bahkan perasaan bahagia pun banyak diasosiasikan dengan kepuasan jiwa (bathin). Perasaan damai, bahagia, sukses, sejahtera atau apapun istilahnya merupakan buah pikiran manusia. Karena pikiran selalu berubah-ubah (tidak kekal).

Dengan demikian dapat dikatakan semua buah pikiran manusia sesungguhnya bukan merupakan akhir dari perjuangan jiwa di dunia ini dengan kata lain kebahagiaan, kesejahteraan serta berbagai buah pikiran lainnya hanya merupakan rangkaian dari perjalanan panjang sang jiwa untuk melakukan evolusinya.

Kerinduan sang jiwa untuk bersatu dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu cara untuk memenuhi kerinduan Sang jiwa dalam perjalanan panjang lahir di dunia ini adalah “Sembahyang”. Agar kerinduan Sang Jiwa semakin cepat kita dapat pertemukan dengan Sang Pencipta maka wajiblah kita melakukan persembahyangan setiap hari. Karena itu semua agama menuntun umat-Nya untuk rajin sembahyang

Melukat

Air merupakan sumber kehidupan di dunia ini, bagi masyarakat Bali, air suci sangatlah disucikan. Salah satu fungsi air dilihat dari aspek religius, air merupakan media untuk melakukan penglukatan (ruwatan). Karena berfungsi sebagai media, maka air  dipandang sebagai zat cair dalam wujud fisik yang dapat mengantarkan energi bagi kehidupan ini. Bagi kebanyakan orang energi tidak dapat dilihat (kecuali mereka yang sudah waskita), maka air berfungsi ganda yaitu sebagai media dan sekaligus sumber energi.

tirta empulSebagaimana benda lainnya di dunia ini, tubuh sesungguhnya adalah kumpulan energi, pikiran pun sebuah energi karena itu orang waskita akan dapat membaca pikiran seseorang melalui sebaran energi yang terpancar melalui pikiran seseorang / gerak anggota tubuh.

Dalam proses melukat, dua energi bertemu menjadi satu. Kekuatan energi dari sumber air sebagai media melukat sangat menentukan keberhasilan proses pembersihan badan energi manusia. Karena itu kesucian sumber air sebagai media penglukatan sangatlah penting untuk kita perhatikan. Berdasarkan penelitian melukat / ruwatan merupakan proses pembersihan badan energi manusia melalui media air (70 % tubuh terdiri dari air), vibrasi doa selama proses melukat juga akan berdampak positif terhadap molekul air. Kestabilan cairan tubuh akan mendukung kesehatan fisik maupun rohani.

Dengan demikian melukat merupakan sebuah keharusan jika kita ingin meningkatkan derajat kehidupan spiritual kita. Dalam proses melukat, pikiran pun tenang. Hal ini terjadi karena pikiran sebagai sebuah energi mendapatkan vibrasi dari media air yang mengandung sumber energi kesucian, secara fisik dapat kita rasakan kesejukan pikiran sehabis melukat.

Meditasi

meditasiMeditasi adalah teknik komunikasi pikiran dan tubuh agar jiwa (atman) dapat bertemu dengan Sang Pencipta dalam kerinduan panjang selama evolusi kelahiran yang berulang-ulang di dunia ini. Meditasi merupakan kegiatan spiritual untuk pencerahan jiwa.

Orang-orang yang rajin sembahyang, melukat dan meditasi secara spiritual jiwanya akan selalu dekat dengan Sang Pencipta. Pikiran dan tubuh pun akhirnya selaras dengan jiwa yang suci. Dengan demikian pikiran negatif seperti marah, benci maupun iri tidak akan mendapat tempat dalam pikiran bawah sadar kita sehingga mereka akan menjadi orang yang murah senyum dan ramah. Jika sikap ini diikuti dengan keikhlasan maka jiwa ini akan semakin lapang.

Diambil dari Majalah Media Spiritual

Responses

  1. Melukat bukan suatu keharusan untuk semua orang, karena tidak semua orang sama secara jasmani ataupun kecerdasan sacara rohani, bagi orang yang belum memiliki kecerdasan secara rohani mungkin ya………karena mereka tidak mampu untuk mensucikan dirinya melalui rohani, akan tetapi bilamana orang telah melakukan pembelajaran scara kerohanian maka tidak ada suatu keharusan untuk melakukan pengelukatan karena mereka telah mampu untuk membersihkan dirinya melalui rohani……sebuah kata harus tidaklah tepat karena secara lahiriah kita tidak sama walau secara mendasar kita sama, terbentuk dari nur atau cahaya.
    Walaupun 100 x melakukan pengelukatan tanpa di ikuti dengan pembelajaran kerohanian secara berkelanjutan dengan empat hal yaitu TAPAH, BRATAH, YOGA dan SAMADHI maka tidak ada gunanya melukat kemana – mana

    • Suksma Pak Made atas masukannya, yang jelas melukat itu ada kegunaannya.
      Rahajeng

  2. Selamat malam kepada Bapak Ngurah Ardika, saya gunawan dari denpasar, ingin menanyakan perbedaan jumlah aksara Bali dan Jawa?mengapa bisa berbeda jumlah dan bentuk tulisan?apakah terdapat arti dalam aksara Bali?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: