Posted by: spiritualkundalini | June 5, 2010

Tirta Yatra ke Pura Segara Giri Dharma Kencana, Pulau Menjangan

Tirta Yatra ke Pura Segara Giri Dharma Kencana, Pulau Menjangan

Pada tanggal 25 April 2010 Yayasan Spiritual Dharma Sastra mengadakan acara Tirta Yatra ke Pura Segara Giri Dharma Kencana. Pura ini berada di sebuah pulau kecil di kawasan Taman Nasional Bali Barat, tepat di ujung barat laut pulau Bali. yang biasa disebut dengan Pulau Menjangan. Butuh perjalanan yang cukup lama – tiga jam perjalanan darat dari Denpasar , disambung dengan 30 menit menggunakan perahu tradisional. Pura ini merupakan sebuah Pura yang berkaitan erat dengan perjalanan Dang Hyang Siddhimantra ke Bali. Menurut wacana Guru Spiritual Sejati Kundalini, Bapak I Putu Ngurah Ardika, S.Sn, Pura ini awalnya adalah sebuah perbatasan antara pulau Bali dan pulau Jawa. Perbatasan inilah yang nantinya cikal bakal Pulau Menjangan yang kini sangat di lestarikan oleh umat Hindu Bali. Disebutkan di pulau inilah sejatinya Dang Hyang Siddhimantra menorehkan tongkatnya untuk membelah pulau Jawa dan Bali sampai torehan beliau ke Pantai Segara Rupek. Sehingga dengan sejarah tersebut lahirlah Pulau Menjangan dan dibangun Pura untuk menghormati jasa beliau yang bernama Pura Segara Giri Dharma Kencana. Giri yang berarti bumi atau wilayah, Dharma yang berarti kebenaran dan Kencana yang berarti garis. Dengan demikian Pura Segara Giri Dharma Kencana memiliki arti Pura yang berada pada wilayah garis kebenaran.
Menurut penuturan sang guru sejati, pura ini merupakan pura penjaga Bali. Beliau menuturkan jika Pura ini pada saat menjalankan upakara yang tidak disertai dengan aci-aci yang lengkap maka Bali akan mengalami guncangan hebat.
Dari segi arsitektur Pura ini memliki kaidah seperti penataan pura dengan model padmasana dan masih menggunakan kaidah arsitektur Hindu Bali yaitu tri mandala yakni utama, madya dan nista. Pada areal nista mandala terdapat areal laut yang sebagai fungsi melukat dan melebur segala macam noda badan eterik. Selanjutnya areal madya mandala terdapat wantilan sebagai fungsi ’mesandekan’ bagi pemedek yang akan melakukan persembahyangan pada pura ini. Dan pada areal terakhir adalah utama mandala terdapat pura dengan bermacam-macam palinggih dengan masih-masing stana beliau.
Pura ini sesungguhnya penuh berkah bagi umat yang melakukan tirtayatra. Pura ini dijadikan tempat memohon pengampunan dosa dan pembersihan diri untuk karma-karma terdahulu. Bagi keturunan Bang Manik Angkeran melakukan tirta yatra ke pura ini adalah sama dengan ’eling’ dengan leluhur dan sebagai rasa syukur telah diberikan kehidupan kembali di bumi ini untuk melakukan perbaikan diri dan menerapkan dharma dan yadnya.

Sumber : Wacana Guru Sejati Kundalini, Bapak I Putu Ngurah Ardika, S.Sn

By. Gede Jayadi Pramana Kusuma


Responses

  1. Om swastyastu,..sameton sedharma,Om awignam astu namah sidam,dlm kesempatan yg baik ini,tyang ingin komentar,pulau ini indah sekali,sesuai sekali utk istana Nya,indah dan suci…sekala niskala,tapi..kayaknya pura Giri Kencana,kurang mendapatkan perhatian dan perawatan dgan baik(dibanding pura dibawah)buktinya th lalu ty tangkil,padmasananya rontok,dan th ini,kondisinya makin memburuk,pelataran jeroan jebol,bale piasan miring,wantilan;lantai jebol dll.besar harapan ty semoga yg berwajib punya hasrat untuk bertindak! Semoga pikiran baik datang dr segala penjuru,Om shanti Shanti,Shanti Om…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: